FFS2016

Catatan tentang Borjuis-Bohemian

Berbicara tentang festival film, tak dapat dipungkiri, kita sedang membicarakan potensi kelas menengah. David Brooks menyebutnya sebagai kelas ‘Bobo’ (Borjuis-Bohemian). Mereka adalah kelompok kemapanan baru di abad informasi. Mereka adalah kelas terdidik, intelektual, yang di satu sisi mengkritik kemapanan, memuja nilai-nilai radikal, tetapi di sisi lain menikmati surga borjuasi. Dunia informasi telah melebur dengan dunia material uang, sehingga muncul istilah-istilah seperti modal intelektual, dan budaya industri. Orang yang sukses dalam periode ini adalah mereka yang bisa menyulap ide dan emosi menjadi sebuah produk, salah satunya adalah film. Transformasi ekonomi-politik di abad informasi ini telah membentuk kelas (menengah) baru, dan membawa mereka pada satu posisi dalam masyarakat. Mereka mengkonstruksikan citra kekuatan pengaruhnya, dan sanggup mentransformasikan hubungan ekonomi-politik di sekitarnya. Salah satu citra pengaruhnya diwujudkan melalui festival film.

Salah satu ajang festival film yang saya ikuti, adalah FFS (Festival Film Surabaya) 2016. Acara yang diadakan di Balai Budaya (eks bioskop Mitra) Surabaya pada 7-8 Mei ini menghadirkan nominasi dari seluruh Indonesia. Paling jauh, peserta/ nominator dari Aceh. Seperti tebakan saya sebelumnya, konten yang diangkat dalam karya tidak jauh dari persoalan yang dihadapi oleh kelas menengah. Seperti problem teknologi, cinta sepasang kekasih atau mode pakaian (fashion). Bagi saya ini wajar, karena mungkin film dipahami berangkat dari persoalan-persoalan di sekeliling pembuat film. Toh masih tetap ada unsur kritis dan reflektif terhadap permasalahan tersebut. Seperti film Demam Gadget (SMK Negeri 3 Batu), yang menunjukkan bahwa kebahagiaan bukan didapatkan dari gadget (telepon pintar). Film Sinestesia (SMK Negeri Buduan Sidoarjo) mengkritik pengaruh internet terhadap perilaku masyarakat. Pendidikan moral koruptif muncul dalam film Si Rantiang Patah (SMK Negeri Solok). Serta permasalahan perceraian (broken home) yang dihadapi oleh seorang anak kelas menengah hadir dalam film Pulang Sekolah (Universitas Multimedia Nusantara Tangerang). Tema khas kaum intelektual ada dalam film Bacalah (SMAN 3 Sukabumi), yang bercerita tentang kegalauan buku yang saat ini jarang dilirik dan dibaca, bahkan sampai dibuang. Ada juga percampuran tema cinta-kasih dan buku yang menghiasi film We are not Alone (SMA Kristen Dharma Mulya Surabaya).

Kelas menengah mengangkat persoalan disekitarnya, wajar. Tetapi mungkin yang patut diapresiasi adalah mereka, kelas menengah, yang berusaha mengangkat persoalan masyarakat kelas bawah. Ini tercermin dalam film dokumenter Selimut Panas (MAN Model Banda Aceh). Film tersebut mengangkat permasalahan hak rumah para korban tsunami Aceh, yang diserobot oleh sekelompok orang yang serakah. Persoalan ini berlarut-larut hinga tak terselesaikan sampai sekarang. Ini bisa dikatakan persoalan yang sensitif karena mungkin ada mafia-mafia yang bermain dibaliknya. Usaha untuk menyorot persoalan ini, saya pikir, patut mendapatkan apresiasi. Sayang seribu sayang, film ini tak mendapat juara. Saya menikmati sajian sinematografis yang indah dari nominator film fiksi kategori mahasiswa-umum. Akting para aktor dan aktris juga turut membawa saya tenggelam dalam cerita. Sejenak saya tidak begitu mempersoalkan permasalahan apa yang diangkat dalam film. Mimin lan Mintuna (ISI Yogyakarta) adalah salah satu film yang membuat saya tenggelam dalam cerita, sehingga melupakan bahwa ia cermin sinetron percintaan, berlatar budaya Jawa kolot, yang terus direproduksi. Bius sinematografis juga saya rasakan dalam film Rino Wengi (Komunitas Film Ponorogo Indie). Cerita tentang cara bertahan hidup seorang rondo teles (janda baru ditinggal suami) ini mampu mengeksplorasi titik paling privat dari seorang janda. Bius sinematografis terasa seperti ada kontak sentuhan demik. Gilles Deleuze menjelaskan ini dengan istilah haptic vision, yakni efek yang dihasilkan karena melihat objek, sampai titik tertentu mampu mengaktifkan indera lain, yakni tactile atau peraba, sebagai bentuk keikmatan menonton (visual pleasure. Sederhananya ia adalah efek penghayatan yang mencapai titik maksimal. Tebakan saya kali ini tepat, film Rino Wengi berhasil mendapatkan juara kategori fiksi mahasiswa-umum.

Mungkin catatan perihal ini adalah estetika adalah persoalan inderawi, tidak ada standar baku yang bisa menentukan kualitas karya. Kalau dalam istilah Kant, estetika itu disinterestedness, hadir apa adanya tanpa maksud dan tujuan. Mayoritas nominasi film mahasiswa-umum saya pikir sudah sukses dalam penyampaian visual, bahwa film bukan lagi dominan dialog ataupun teks, tetapi visual dan aural/suara yang berperan besar dalam pembuatan film. Film The Stork Who Dropped Me (IMAGIN3 MEDIA COM Batam) barangkali bisa mewakilinya. Film minim dialog ini, bagi saya, berhasil dalam menyampaikan cerita permintaan terakhir seorang bapak yang hendak dieksekusi mati, yakni makan mewah bersama putri kesayangannya, barangkali itu beberapa catatan saya tentang film-film di FFS 2016. Satu lagi, saya sebagai orang yang sedang mengamati potensi-potensi kultural yang bermuatan subversif, mungkin melihat karya-karya pemuda/intelektual ini bisa dijadikan inisiatif dalam melakukan perubahan di masayarakat. Banyak pandangan menganggap bahwa anak-anak muda cenderung pasif dan apatis terhadap persoalan di masyarakat. Tetapi pandangan saya mengatakan bahwa mereka sebenarnya sangat peduli dan aktif berpartisipasi, tetapi kesulitan menemukan saluran yang tepat yang bisa mendistribusikan keaktifan dan kepeduliannya.

Bulan April 2016 kemarin tepatnya tanggal 21-24, di Jogja National Museum, saya mengikuti acara JMR (Jagongan Media Rakyat). Diskusi diadakan penuh 4 hari dari pagi sampai malam. Melihat tema-tema diskusi yang bagi saya cukup berat, saya pertama menduga penonton yang hadir mungkin tak seberapa, dan mungkin didominasi oleh para aktivis-aktivis senior. Tetapi, ternyata, jumlah kawan-kawan dari pelajar dan mahasiswa mendominasi kuantitas penonton. Saya berfikir bahwa pemuda-pemuda cerdas, kreatif, peduli dan aktif itu jumlahnya sangat banyak, tetapi mungkin mereka cenderung jarang bersuara (silent majority). Maka dari itu tidak perlu khawatir berwacana (berat). Setiap ada inisiatif baru yang prospektif bagi masyarakat, di situlah silent majority akan terus mendukung. Festival film, bagi saya, bisa dikatakan wujud dari inisiatif itu. Selama kegiatan ini terus konsisten dan berjalan serempak, niscaya para pemuda cerdas, aktif dan kreatif menemukan saluran yang tepat dalam mendistribusikan tenaganya yang besar. Akhir kata, selamat kepada para pemenang FFS 2016. Serta selamat kepada panitia, karena acara besar ini sukses dan berjalan lancar.

 

Terus berkarya anak muda!

Yongky Gigih Prasisko

 

 

 

Keterangan:

 

Daftar Pemenang Festival Film Surabaya 2016

 

Video Musik :

  1. Forfeit – SMKN 2 Buduran, Sidoarjo
  2. Someone Else – SMK Negeri 1 Lumajang

III. Arti Sahabat – SMK Pasik Plus Sukabumi

 

Animasi :

  1. The Gift – SMKN 1 Boyolangu, Tulungagung
  2. Pencarian Mesin Lokomotif – SMK Teratai Putih Global 4 Bekasi

III. Manten Kucing Tulungagung-Dibalik Sebuah Tradisi – SMKN 1 Boyolangu, Tulungagung

 

ILM :

  1. Warna – SMK ITUS Kuningan
  2. Stop Kekerasan Verbal – SMKN 1 Sukabumi

III. Pesona Budaya Tanah Priangan – SMKN 10 Bandung

 

Dokumenter :

  1. Sang Kolektor Muda – MAN 1 Sigli Aceh
  2. Menoreng – SMA Negeri 2 Kebumen

III. Seulangkot – MAN Model Banda Aceh

 

FIKSI:

  1. Sinestesia – SMK Negeri 2 Buduran, Sidoarjo
  2. Si Rantiang Patah – SMK Negeri Solok

III. Demam Gadget – SMK Negeri 3 Batu

[18:35, 5/12/2016] Vanity: Best :

Sutradara Terbaik :

Dwi Martina “Pitulasan” – SMKN 2 Pati

 

Penulis Skenario Terbaik :

Bagas Tio Rizki & Alfian Alfarisi “Sinestesia” – SMKN  2 Buduran, Sidoarjo

 

Pengarah Kamera Terbaik :

Zahra Yuni Alda ” Si Rantiang Patah” – SMK Negeri Solok

 

Penata Suara Terbaik :

Rea Qinthara “Bacalah” – SMAN 3 Kota Sukabumi

 

Penata Artistik Terbaik :

Fitria Khoirunissa “Pitulasan” – SMKN 2 Pati

 

Penyunting Gambar Terbaik :

Jody Shintara “Skill” – SMKN 1 Sungailiat Bangka

 

Poster Terbaik :

Never Let You Go

SMKN 10 Bandung

 

Penghargaan Khusus Mahasiswa-Umum:

Rino Wengi – Komunitas Film Indie Ponorogo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *