FFS2015

Film Pelajar: Mempertanyakan Guru, Bukan Menggurui

Satu dekade lalu, film pendek mungkin hanya dianggap sebagai medium latihan bagi insan yang ingin terjun ke industri film bioskop. Maraknya festival-fetival film pendek dalam tahun-tahun terakhir sedikit banyak telah merubah asumsi tersebut. Film pendek pun mulai dianggap sebagai medium karya yang memiliki karakteristik, pasar penonton, dan gengsi tersendiri. Durasi yang pendek ini kini tidak berarti film pendek hanya menjadi produk para pemula.

Seiring dengan perkembangan film pendek, film pendek buatan pelajar pun perlahan kini tidak lagi dilihat sebagai medium latihan. Munculnya sekolah menengah kejuruan produksi audio-visual, ekstrakurikuler film ataupun kine di sekolah-sekolah, serta komunitas-komunitas film lintas umur, telah membuat produksi film pelajar menjadi masif dan memiliki kualitas bersaing. Film pendek pelajar yang tumbuh di era 2000-an ini seringkali terasa memberikan prespektif yang lebih baru, baik dari segi gagasan maupun teknis, daripada karya generasi sebelumnya di beberapa festival film pendek.

Festival Film Surabaya yang digelar untuk ketiga kalinya ini, mencoba menjadi ruang untuk memetakan perkembangan mutakhir film pelajar di Indonesia. Lebih dari 30 karya dalam pagelaran kali ini coba ditampilkan setelah melalui seleksi dari sekitar 211 karya yang didaftarkan. Mencoba melebarkan pemetaan karya pelajar ke dalam lingkup produksi audio visual, karya yang ditampilkan dalam Festival Film Surabaya kali ini dibagi ke dalam lima kategori: fiksi, animasi, dokumenter, video klip, dan Iklan Layanan Masyarakat.

Berbeda dari tren film karya mahasiswa didikan sekolah seni yang lebih banyak mengambil gaya eksperimental ataupun non-naratif, film-film pendek karya pelajar dalam Festival Film Surabaya ini dipenuhi film-film dengan cara tutur yang naratif. Mungkin hal ini merupakan implikasi dari referensi tontonan para pelajar yang tidak terpaku pada karya-karya dalam sejarah sinema dunia. Dengan cara tutur ini, film-film para pelajar cenderung menjadi tidak berjarak dengan film bioskop arus utama ataupun film televisi. Karya para pelajar dalam hal ini menjadi mudah untuk dikonsumsi oleh penonton berbagai usia, mulai dari remaja hingga dewasa.

Di sisi lain, referensi tontonan yang sempit ini perlu juga diwaspadai agar film pelajar tidak terjebak ke sajian yang klise. Perlu cara-cara kreatif untuk mengadopsi film-film yang menjadi inspirasi agar tidak terjebak ke peniruan semata. Film pendek fiksi berjudul Rache misalnya, cukup matang dalam mengolah cerita dan efek visual meski sekilas terlihat sangat berkiblat pada film The Raid. Di kategori animasi, film Herobot membuktikan bahwa dengan teknis yang matang, pelajar mampu membuat film animasi dengan karakter robot layaknya film Wall-E.

Film Herobot

Dari segi gagasan, banyak muncul isu mengenai kekerasan, remaja, lingkungan, hingga agama. Film-film seperti Kumara Karta dan Pelupa Shalat berusaha menawarkan wacana agama dengan cara berbeda dari film-film bernuanasa “ceramah” agama yang marak belakangan ini. Penggunaan bahasa sinema yang tidak verbal untuk menuangkan gagasan bisa jadi menjadi kunci penting dalam menilai kualitas para karya pelajar. Film berjudul 10-11 misalnya, merupakan salah satu karya yang berhasil mengangkat isu nasionalisme dari perpektif pelajar dalam konteks saat ini. Film ini seolah menunjukkan bahwa film pelajar bukan untuk menggurui, namun untuk mempertanyakan ajaran guru.

Film 10-11

Bagi pelajar, membuat film bukan hanya persoalan gagasan dan teknis audio-visual. Kemampuan memanajeman dan mengorganisasi produksi menjadi penting untuk dikuasai. Beberapa karya video klip dan dokumenter dalam Festival Film Surabaya ini menunjukkan bagaimana kemampuan pelajar untuk bernegosiasi dengan pihak yang menjadi objek ataupun kolaborator. Salah satu video klip pelajar yang ditampilkan kali ini merupakan video klip dari band Rocket Rockers. Karya ini menunjukkan bagaimana saat ini produksi para pelajar layak untuk diperhitungkan di industri video.

Pada akhirnya, mengapresiasi karya pelajar menjadi suatu hal yang perlu bagi perkembangan budaya di Indonesia. Lepas dari campur tangan bimbingan dari guru dalam proses penciptannya, bagaimanapun film pelajar merupakan rekaman gagasan pelajar tentang dunia mereka. Dengan membaca pemikiran-pemikiran yang dimunculkan dari pelajar di seluruh Indonesia, sangat dimungkinkan lahir diskusi antar generasi dan wilayah yang meramaikan proses demokrasi. Sedangkan bagi pembuat film pelajar sendiri, apresiasi perlu diimbangi dengan kritik agar terjadi refleksi yang membangun dalam proses penciptaan produk budaya.

Irham N. Anshari

Peneliti dan pembuat film

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *