Catatan Kuratorial FFS 2016

Berlari dan Jalan di Tempat

Dalam salah satu festival film pendek pertama di Indonesia, Festival Film Independen I (2002), film yang memenangkan kategori pelajar bertajuk Boraland Bangun, Ayo Sekolah! Film ini bercerita tentang seorang anak yang terbangun dari tidurnya dan blingsatan karena sudah kesiangan. Ia pun dengan tergesa-gesa tancap gas ke sekolah. Sesampai di sekolah, ia terkejut karena mendapati hari itu adalah hari libur.

Selang lebih dari 10 tahun sejak festival itu, rupanya pola narasi yang sama masih menghantui para pembuat film pelajar tahun ini. Dari sekitar 100 film fiksi pelajar yang mencoba berpartisipasi di Festival Film Surabaya, banyak sekali ditemui adegan sang tokoh utama berlari tergesa-gesa. Adegan ini seolah menjadi satu-satunya cara yang dipahami para pelajar untuk menarik perhatian penonton masuk ke dalam cerita.

Sebagian besar film juga masih mengulang pola ending kejutan atau twist sebagai kunci film. Hal ini menunjukkan bagaimana sebagian besar pelajar masih lemah untuk menggiring perhatian penonton melalui wacana atau tema yang unik dan menarik. Tema anti korupsi, yang pastinya muncul banyak lantaran adanya respon pada festival film anti-korupsi, menjadi salah satu tema yang banyak ditemui dan cenderung membuat film menjadi membosannkan karena dinarasikan dari kacamata-kacamata umum. Sedikit sekali ditemui cerita yang menggunakan kacamata pelajar, dalam konteks ini anak usia di bawah 18 tahun.

Di tengah kreatifitas narasi yang kurang berkembang dan cenderung jalan di tempat, akhirnya film-film dengan pendekatan visual yang unik dan canggih pun menjadi patut dipertimbangkan. Film berjudul “Enthong Squad” misalnya, -meski diawali dengan adegan kejar-kejaran-menyuguhkan keterampilan efek visual dengan suguhan action ala Saras 008 hingga Naruto. Pendekatan visual yang dipadu dengan tema menarik misalnya juga ditemukan dalam film “Sinestesia” yang membicarakan relasi manusia dan teknologi.

Selain kategori fiksi, kategori dokumenter juga dipenuhi karya-karya yang nyaris seragam, terutama dalam menjadikan kesenian tradisional sebagai fokus film. Di tengah keseragaman ini, film-film dokumenter dari Aceh yaitu “Sang Kolektor Muda” dan “Selimut Panas” menjadi menarik karena mengangkat peristiwa lokal dengan bingkai yang tidak eksotis. Pada kategori video klip, efek visual dan editing cukup banyak dieksplorasi. Meski demikian, penghargaan juga patut diberikan pada bagaimana pelajar memilih lagu dan mengarahkan sang penyanyi secara apa adanya, seperti yang dapat ditemui dalam video dari lagu berjudul “Nanana”.

Meksi memfokuskan pada apresiasi karya audio visual dari pelajar, pagelaran Festival Film Surabaya juga akan memberikan penghargaan khusus pada satu film fiksi karya mahasiswa/umum. Beberapa film dalam kategori ini patut menjadi bahan referensi bagi para pelajar dalam memilih pendekatan penyutradaraan hingga tema cerita. Film-film seperti “Budiman”, “Ada Ide?”, ataupun “Toilet sedang Dalam Perbaikan” patut mendapat perhatian penting.

Akhir kata, selamat menonton dan berfestival.

(Irham N. Anshari, MA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *