FFS2017

Konsistensi, Nyali, dan Kemauan Menjadi Agen Perubahan

 Bermula dari sebuah ekstrakulikuler film yang diadakan jurusan multimedia SMK Dr. Soetomo Surabaya (Smekdor’s), tercetuslah gagasan untuk membuat wadah apresiasi yang semula hanya sebatas pemutaran film di lingkungan sekolah dan sekitarnya menjadi apresiasi yang tarafnya nasional. Festival Film Surabaya (FFS) dipilih sebagai nama wadah apresiasi karena sebagai identitas dimana festival ini diadakan dan sebagai semangat serta kebanggaan bagi warga Surabaya khususnya kaum muda agar kegiatan semacam ini bisa menjadi pemicu kreatifitas, memberikan dampak positif dan tercatat sebagai sejarah perfilman di Indonesia khususnya. Penyelenggaraan FFS 2017 merupakan tahun yang keenam, tantangan yang dihadapi sangat variatif, mulai dari yang pesertanya hanya berjumlah puluhan, sistem pendaftaran dan tata kelola kegiatan yang belum tertata, hingga tempat pemutaran festival yang tidak representatif, hal tersebut kemudian menjadi evaluasi besar sehingga mampu bertahan sampai tahun 2017. Perjalanan melaksanakan festival film ini tidaklah mudah karena selama enam tahun berjalan dengan berbagai macam rintangan dan tantangan tiap tahunnya serta dimana sebagian besar dari mereka adalah siswa siswi Smekdor’s masih aktif sekolah, belum punya pengalaman mengelola kegiatan bertaraf nasional dan selalu silih berganti setiap tahunnya, maka pengelolaan festival yang besar ini terus didorong oleh Juliantono Hadi, SE., ST., M.Si selaku kepala sekolah Smekdor’s dan pembina FFS, tiap tahunnya secara konsisten dengan nyali yang besar dan adanya kemauan, keseriusan untuk melaksanakan FFS sehingga dapat berjalan dengan baik, lancar dan dampaknya adalah mampu melahirkan agen-agen perubahan.

Sejak awal digagas FFS tidak pernah ada ‘tema’ dan tidak pernah membuat ‘tema’, yang ada hanyalah ‘semboyan’ untuk menangkap isu-isu yang ada dari berbagai daerah di Indonesia yang nantinya ketika diputar dalam festival, hal tersebut dapat menambah wawasan bagi penontonnya. Pada awalnya FFS mempunyai semboyan ‘Dari Pelajar Oleh Pelajar Untuk Indonesia’, semboyan tersebut dibuat karena memang basis awal FFS adalah untuk mengapresiasi karya-karya pelajar seluruh Indonesia. Kemudian pada penyelenggaraan yang keempat, semboyan tersebut berubah menjadi ‘Bangga Menjadi Tuan Rumah Di Negeri Sendiri’, ditandai dengan dibukanya kategori untuk mahasiswa/ umum, dengan maksud agar peserta pelajar khususnya juga akan mendapatkan referensi yang lebih luas dengan karya-karya yang dibuat oleh kategori mahasiswa/ umum. Singkatnya, FFS diharapkan akan menjadi ‘meltingpoint’, bagaimana hubungan antara film maker, pengkaji film, penonton film, dan lainnya yang dari berbagai macam daerah bisa bertemu dan berbagi pengalaman serta menjalin relasi yang dampaknya bisa membuat jaringan yang semakin luas. Orang Surabaya yang belum pernah ke Aceh/ Papua akan tau, merasakan, dan melihat Aceh/ Papua dari karya film yang ada tanpa harus pergi ke Aceh/ Papua, begitu juga sebaliknya.

Festival Film Surabaya setiap tahunnya baik dari peserta yang mendaftarkan karyanya maupun penonton yang hadir trennya selalu meningkat. Sejak dibuka pendaftaran pada bulan November 2016 hingga April 2017, FFS Tahun 2017 peserta yang mendaftarkan karyanya secara online tidak kurang dari 600 karya, mulai dari Aceh hingga ujung timur Indonesia. Proses seleksi administrasi karya dilakukan selama dua minggu, mengingat file yang dikirimkan setiap karyanya rata-rata diatas 1 gigabyte bahkan ada yang mencapai 8 gigabyte, kemudian kurasi dilakukan selama satu minggu yang menghasilkan 56 karya nominasi dari 6 kategori yaitu 5 kategori pelajar; film fiksi, animasi, iklan layanan masyarakat, video musik, film dokumenter, dan 1 kategori film fiksi mahasiswa/ umum. Juri FFyongS 2017 adalah Dr. Budi Irawanto yang merupakan Direktur Jogja Netpac Asian Film Festival, Vani Dias Adiprabowo, M.Sn adalah pegiat film pelajar dan inisator Festival Film Surabaya, Mahfud Ikhwan adalah sastrawan yang menulis buku ‘Aku dan Film India Melawan Dunia’ serta akademisi dari ilmu komunikasi Universitas Gajah Mada Irham N Anshari, MA. Acara FFS 2017 yang diadakan di Taman Budaya gedung Cak Durasim Surabaya dimulai dari hari sabtu tanggal 13 Mei 2017 yaitu kedatangan peserta dari luar kota Surabaya dan malamnya langsung diadakan ramah tamah serta ngaji film bersama peserta yang diberi fasilitasi penginapan di wisma seni Cak Durasim, kemudian tanggal 14-15 Mei 2017 pemutaran film nominasi, diskusi dan penganugerahan. Acara FFS 2017 dibuka langsung oleh Kepala Pusat Pengembangan Film Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI bapak Dr. Maman Wijaya kemudian acara dilanjutkan pemutaran film, diskusi literasi film dan festival serta diskusi jejaring festival yang diisi oleh Malang Film Festival, Ruang Film Sukabumi dan Denpasar Film Festival sebagai pemantiknya. Penonton yang hadir tidak kurang dari 800-900 orang selama acara tersebut berlangsung. Festival Film Surabaya sangat penting, karena festival ini adalah satu festival terbesar dengan basis pelajar dari seluruh Indonesia serta peduli terhadap literasi film pelajar khususnya yang harus terus didukung dan dikembangkan untuk membantu dan menjadi ruang alternatif pendidikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *